Rabu, 03 Juni 2015

Teori Kognitif Sosial



Teori Kognitif Sosial
Teori kognitif social (social cognitive theory) menyatakan bahwa factor social dan kognitif serta factor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Factor kognitif berupa ekspektasi siswa untuk meraih keberhasilan, factor social mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya.

Asumsi dasar dari teori kognitif social
1.    Manusia memiliki karakteristik yang menakjubkan adalah keplastisannya.
2.    Manusia memiliki kapasitas untuk mengatur hidup mereka sendiri
3.    Manusia memiliki kapasitas untuk melatih atas alam dan kualitas hidup mereka sendiri
4.    Manusia mengatur kehidupannya dipengarui dengan faktor internal dan eksternal
5.    Manusia menemukan dirinya dalam situasi yang ambigu secara moral.

Observasional Learning
         Belajar à kegiatan pemrosesan informasi tentang struktur perilaku dan kejadian-kejadian lingkungan ditransformasikan (diubah) ke dalam representasi simbolik yang berperan sebagai panduan bagi perilaku.
         Bandura : “tindakan mengamati memberikan ruang pada manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun”
      contoh: fenomena alam, tumbuhan, tata surya
      Teori Kognitif Sosial à manusia belajar dengan mengamati prilaku orang lain.

Pemodelan
Pemodelan melibatkan proses kognitif àjd tidak hanya meniruà lebih dari sekedar menyesuaikan diri dgn tindakan org lain karena sudah melibatkan perepresentasian informasi secara simbolis & menyimpannya utk digunakan di masa depan

Faktor yang menentukan seseorang belajar dari suatu model:
Pertama
1.    Karakteristik model.
2.    Cenderung menyukai model yg statusnya lebih tinggi.
3.    Menyukai pribadi yg kompeten drpd yg tidak menyukai pribadi yg kuat drpd lemah.
Kedua
1.    Konsekuensi perilaku yg dimodelkan
2.    Semakin besar nilai yang diberikan pengamat, makin besar nilai diserap

Proses Pembelajaran Pemerhatian/Pemodelan
1.    PROSES PERHATIAN
Proses ini akan menentukan apa yang secara selektif diamati dari begitu banyaknya pengaruh si model dan informasi apa saja yang akan disarikan dari kejadian-kejadian.
Proses Perhatian ditentukan :
      Sifat-sifat Perilaku Model, misal : salience, kemampuan membedakan dan kompleksitas dari perilaku model.
      Faktor-faktor yang ada dalam diri di pengamat, misal prekonsepsi dan ketrampilan kognitif.
      Nilai fungsional, misal : perilaku model yang sukses/efektif atau yang dapat menghasilkan reinforsemen/hukuman akan lebih diperhatikan dibandingkan perilaku yang tidak efektif.
      Sifat menarik/atraktif si model. Model yang atraktif (cantik/ganteng, murah senyum) akan lebih menarik perhatian dibandingkan yang kurang memiliki sifat tersebut.

2.    PROSES RETENSI
Proses mentransformasikan/mengubah perilaku model yang telah diamati menjadi simbol-simbol dalam pikiran si pengamat.
Simbol-simbol ini akan menggambarkan sifat dan struktur yang esensial dari perilaku si model.
         Simbol ini bisa disimpan dalam bentuk visual/imajinal ataupun deskripsi verbal dari perilaku si model. Repetisi/pengulangan secara kognitif mengenai perilaku model dapat meningkatkan retensi dari perilaku si model dalam memori pengamat.
         Contoh : JUSUF KALLA à pekerja keras, pengusaha sukses à Lebih cepat lebih baik (kita belajar utk tidak menunda pekerjaan)
      à bisa sbg strategi branding bisnis

3.    PROSES PRODUKSI
Perilaku diorganisasikan melalui mekanisme integratif sentral sebelum perilaku dijalankan.
Pengamat akan mengembangkan satu konsepsi mengenai bagaimana komponen-komponen perilaku harus dikombinasikan dan diurutkan berdasarkan waktu untuk membentuk perilaku baru. Proses ini merupakan proses pencocokan dengan konsepsi (conception-matching process).
Sebelum perilaku dijalankan, pengamat akan menyeleksi dan mengorganisasikan perilaku dalam level kognitif.

4.    PROSES MOTIVASI
Perlu dibedakan belajar dengan performans karena orang tidak akan selalu menerjemahkan apa yang dipelajari ke dalam perilaku.
Jika perilaku mengandung sedikit nilai fungsional atau malah mengandung bayak resiko, orang mungkin tidak melakukan performans (tindakan) meski sudah belajar. Bila reinforsemen diberikan maka belajar observasional yang belum terekspresikan akan diubah menjadi performans.

DETERMINISME TIMBAL BALIK (RESIPROK)
DETERMINISME TIMBAL BALIK (RESIPROK) à Bandura menyatakan konsep resiprokalitas triadik : PERILAKU, FAKTOR KOGNITIF dan PRIBADI, serta LINGKUNGAN semua bekerja secara interaktif/saling mempengaruhi à tindakan manusia mrpkn hasil interaksi 3 variabel tsb.

3. Enactive Learning
         Bandura berpendapat perilaku yang kompleks dapat dipelajari ketika manusia memikirkan dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari perilakunya tersebut.
         Konsekuensi memiliki tiga fungsi:
1.    Efek dari tindakan
2.    Memotivasi perilaku kedepan
3.    Memperkuat perilaku (Skiner)

Self Efficacy
Keyakinan manusia pada kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadian-kejadian lingkungannya.
Pembentuk self efficacy
         Pengalaman-pengalaman tentang penguasaan
Performa yang dilakukan pada masa lalu
         Pemodelan sosial
Pengalaman-pengalaman yang tidak terduga dr orang lain
         Persuasi sosial
Seseorang   harus percaya kepada sang pembicara
         Kondisi fisik dan emosi
Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa

Collective Efficacy
Keyakinan bersama manusia terhadap kekuatan kolektif mereka untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan.

Regulasi Diri
Dalam regulasi diri manusia akan terjadi strategi reaktif dan proaktif.
Strategi reaktif digunakan untuk mencapai tujuan sedangkan strategi proaktif digunakan mencapai tujuan yang lebih tinggi
Beberapa faktor mempengaruhi regulasi diri
Faktor Internal:
         Observasi diri
         Proses penilaian
         Reaksi-diri


Faktor Eksternal:
         Standart evaluasi tingkah laku
         Penguatan  (reinforcement)

 Dirgantara Wicaksono
 Pendidikan Kewarganegaraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar