Teori
Kognitif Sosial
Teori kognitif social (social cognitive
theory) menyatakan bahwa factor social dan kognitif serta factor pelaku
memainkan peran penting dalam pembelajaran. Factor kognitif berupa ekspektasi
siswa untuk meraih keberhasilan, factor social mencakup pengamatan siswa
terhadap perilaku orang tuanya.
Asumsi
dasar dari teori kognitif social
1. Manusia
memiliki karakteristik yang menakjubkan adalah keplastisannya.
2. Manusia
memiliki kapasitas untuk mengatur hidup mereka sendiri
3. Manusia
memiliki kapasitas untuk melatih atas alam dan kualitas hidup mereka sendiri
4. Manusia
mengatur kehidupannya dipengarui dengan
faktor internal dan eksternal
5. Manusia
menemukan dirinya dalam situasi yang
ambigu secara moral.
Observasional
Learning
•
Belajar à
kegiatan pemrosesan informasi tentang struktur perilaku dan kejadian-kejadian
lingkungan ditransformasikan (diubah) ke dalam representasi simbolik yang
berperan sebagai panduan bagi perilaku.
•
Bandura : “tindakan mengamati
memberikan ruang pada manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun”
contoh: fenomena alam, tumbuhan, tata surya
Teori Kognitif Sosial à manusia belajar dengan mengamati
prilaku orang lain.
Pemodelan
Pemodelan melibatkan proses kognitif àjd tidak hanya meniruà lebih dari sekedar menyesuaikan
diri dgn tindakan org lain karena sudah melibatkan perepresentasian informasi
secara simbolis & menyimpannya utk digunakan di masa depan
Faktor yang menentukan
seseorang belajar dari suatu model:
Pertama
1. Karakteristik
model.
2. Cenderung
menyukai model yg statusnya lebih tinggi.
3. Menyukai
pribadi yg kompeten drpd yg tidak menyukai pribadi yg kuat drpd lemah.
Kedua
1. Konsekuensi
perilaku yg dimodelkan
2. Semakin
besar nilai yang diberikan pengamat, makin besar nilai diserap
Proses Pembelajaran Pemerhatian/Pemodelan
1. PROSES
PERHATIAN
Proses ini akan
menentukan apa yang secara selektif diamati
dari begitu banyaknya pengaruh si model
dan informasi apa saja yang akan disarikan dari kejadian-kejadian.
Proses Perhatian
ditentukan :
•
Sifat-sifat
Perilaku Model, misal : salience, kemampuan membedakan dan kompleksitas
dari perilaku model.
•
Faktor-faktor yang
ada dalam diri di pengamat, misal prekonsepsi dan ketrampilan
kognitif.
•
Nilai fungsional,
misal : perilaku model yang sukses/efektif atau yang dapat menghasilkan
reinforsemen/hukuman akan lebih diperhatikan dibandingkan perilaku yang tidak
efektif.
•
Sifat
menarik/atraktif si model. Model yang atraktif (cantik/ganteng, murah
senyum) akan lebih menarik perhatian dibandingkan yang kurang memiliki sifat
tersebut.
2. PROSES
RETENSI
Proses mentransformasikan/mengubah perilaku
model yang telah diamati menjadi simbol-simbol dalam pikiran si pengamat.
Simbol-simbol ini akan menggambarkan sifat
dan struktur yang esensial dari perilaku si model.
•
Simbol ini bisa disimpan dalam bentuk
visual/imajinal ataupun deskripsi verbal dari perilaku si model.
Repetisi/pengulangan secara kognitif mengenai perilaku model dapat meningkatkan
retensi dari perilaku si model dalam memori pengamat.
•
Contoh : JUSUF KALLA à pekerja
keras, pengusaha sukses à
Lebih cepat lebih baik (kita belajar utk tidak menunda pekerjaan)
à bisa
sbg strategi branding bisnis
3. PROSES
PRODUKSI
Perilaku diorganisasikan melalui mekanisme
integratif sentral sebelum perilaku dijalankan.
Pengamat akan mengembangkan satu konsepsi
mengenai bagaimana komponen-komponen perilaku harus dikombinasikan dan
diurutkan berdasarkan waktu untuk membentuk perilaku baru. Proses ini merupakan
proses pencocokan dengan konsepsi (conception-matching process).
Sebelum perilaku dijalankan, pengamat akan
menyeleksi dan mengorganisasikan perilaku dalam level kognitif.
4. PROSES
MOTIVASI
Perlu dibedakan belajar dengan performans
karena orang tidak akan selalu menerjemahkan apa yang dipelajari ke dalam
perilaku.
Jika perilaku mengandung sedikit nilai
fungsional atau malah mengandung bayak resiko, orang mungkin tidak melakukan
performans (tindakan) meski sudah belajar. Bila reinforsemen diberikan maka
belajar observasional yang belum terekspresikan akan diubah menjadi performans.
DETERMINISME
TIMBAL BALIK (RESIPROK)
DETERMINISME TIMBAL
BALIK (RESIPROK) à
Bandura menyatakan konsep resiprokalitas triadik : PERILAKU, FAKTOR
KOGNITIF dan PRIBADI, serta LINGKUNGAN semua bekerja
secara interaktif/saling mempengaruhi à
tindakan manusia mrpkn hasil interaksi 3 variabel tsb.
3.
Enactive Learning
•
Bandura berpendapat perilaku yang kompleks
dapat dipelajari ketika manusia memikirkan dan mengevaluasi
konsekuensi-konsekuensi dari perilakunya tersebut.
•
Konsekuensi memiliki tiga fungsi:
1.
Efek dari tindakan
2.
Memotivasi perilaku kedepan
3.
Memperkuat perilaku (Skiner)
Self Efficacy
Keyakinan manusia pada
kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi
diri mereka dan kejadian-kejadian lingkungannya.
Pembentuk self efficacy
•
Pengalaman-pengalaman tentang penguasaan
Performa
yang dilakukan pada masa lalu
•
Pemodelan sosial
Pengalaman-pengalaman
yang tidak terduga dr orang lain
•
Persuasi sosial
Seseorang harus percaya kepada sang pembicara
•
Kondisi fisik dan emosi
Emosi
yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa
Collective
Efficacy
Keyakinan bersama
manusia terhadap kekuatan kolektif mereka untuk menghasilkan perilaku yang
diinginkan.
Regulasi
Diri
Dalam regulasi diri manusia akan terjadi
strategi reaktif dan proaktif.
Strategi reaktif digunakan untuk mencapai
tujuan sedangkan strategi proaktif digunakan mencapai tujuan yang lebih tinggi
Beberapa faktor mempengaruhi regulasi diri
Faktor Internal:
•
Observasi diri
•
Proses penilaian
•
Reaksi-diri
Faktor Eksternal:
•
Standart evaluasi tingkah laku
•
Penguatan
(reinforcement)
Dirgantara Wicaksono
Pendidikan Kewarganegaraan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar