Ø Pengertian Belajar
Menurut pendapat
tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
Ahli pendidikan modern
merumuskan, “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri
seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat
pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya
sifat-sifat sosial, susila, dan emosional”.
Dapat disimpulkan bahwa,
“Belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar
tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidak dapat dikatakan bahwa
telah berlangsung proses belajar”.
Ø Teori-teori Belajar
1) Teori Belajar Behaviorisme (Gage dan Berliner)
Behavioristik memandang
bahwa pengetahuan adalah objektif, pasif, tetap, dan tidak berubah. Pengetahuan
telah terstruktur dengan rapi.
Belajar adalah perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke yang belajar.
Si belajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan
yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus
dipahami oleh si belajar.
Fungsi mind adalah menjiplak
struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilih
sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh
karakteristik struktur pengetahuan.
Keteraturan, karena
Behavioristik memandang bahwa segala sesuatu yang ada di dunia nyata telah
terstruktur rapid an teratur, maka orang yang belajar harus di hadapkan pada
aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan
disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan
penegakan disiplin.
Kegagalan atau ketidakmampuan
dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu
dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku
yang pantas diberi hadiah.
Ketaatan pada aturan
dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang
harus berperilaku sesuai dengan aturan. Jadi, control belajar dipegang oleh
system yang berada diluar diri si belajar.
Teori belajar behavioristik
adalah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Tokoh-tokoh aliran behavioristik di
antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik.
Menurut teori behavioristik,
belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia
mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan
bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah
laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Teori behavioristik dengan
model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai
individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode
pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila
diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
·
Kelebihan
Teori Behaviorisme
-
Dapat
dikendalikan melalui cara mengganti-mengganti stimulus alami dengan stimulus
yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara
individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari
luar dirinya.
- Sangat
cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang
mengandung unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflex, dan
daya tahan.
- Materi
yang diberikan sangat detail dan membangun konsentrasi pikiran.
·
Kekurangan
Teori Behaviorisme
- Murid
hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang
didengar dan dipandangsebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman
sebagai salaah satu cara untuk mendisiplinkan.
- Pembelajaran
siswa yang berpusat pada guru, bersifat meanistik, dan hanya berorientasi pada
hasil yang diamati dan diukur.
- Teori
behavioristik cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen,
tidak kreatif dan tidak produktif
- Peserta
didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
- Siswa,
baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata-kata kasar, ejekan, justru
berakibat buruk pada siswa
- Hanya
mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati
·
Implementasi
Teori Behaviorisme
2)
Teori
Belajar Konstruktivisme
Konstruktivisme memandang
bahwa pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan
tidak menentu.
Menurut teori
konstruktivisme, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkret,
aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata
lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai
ketidakmenentuan. Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap
pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam
menginterpretasikannya.
Fungsi Mind berfungsi
sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada
dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan
individualistic.
Ketidakteraturan
konstruktivisme, konstruktivistik berangkat dari pengakuan bahwa orang yang
belajar harus bebas. Hanya di alam yang penuh dengan kebebasan si belajar dapat
mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala
sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan
belajar.
Kegagalan atau keberhasilan
dan kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda
yang perlu dihargai.
Kebebasan dipandang sebagai
penentu keberhasilan belajar. Si belajar adealah subjek yang harus mampu
menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, control
belajar dipegang oleh si belajar.
Teori konstruktivisme
didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generative, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Teori konstruktivisme lebih
memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan
pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan
pengalamannya. Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar
yang lebih menekankan pada proses daripada hasil.
·
Kelebihan
Teori Konstruktivisme
- Berfikir
: Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan
masalah, menjana ide dan membuat keputusan.
- Faham
: Oleh karena murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru,
mereka akan lebih faham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
- Ingat
: oleh karena murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat
lebih lama semua konsep. Mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah
dalam situasi baru.
- Kemahiran
Sosial : Kemahiran social diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru
dalam membina pengetahuan baru.
·
Kekurangan
Teori Konstruktivisme
- Dalam
bahsan kekurangan atau kelemahan ini mungkin kita bias lihat dalam proses
belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu
mendukung.
·
Implementasi
Teori Konstruktivisme
Salah satu teori atau
pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme
adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori
kognitif juga. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme
adalah sebagai fasilitator atau moderator. Konstruktivisme social yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi
dengan lingkungan social maupun fisik. Teori belajar konstruktivisme lebih
memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.
3)
Teori
Belajar Kognitivisme
Teori belajar
kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi
dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha
yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat
dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan
dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap
yang bersifat relatif dan berbekas.
Ciri- ciri aliran kognitivisme, yaitu mementingkan apa yang
ada dalam diri manusia, mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian, mementingkn
peranan kognitif, mementingkan kondisi waktu sekarang, mementingkan pembentukan
struktur kognitif.
Tokoh-tokoh teori perkembangan
kognitivisme :
-
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan
oleh Jean
Piaget. Teorinya
memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi
perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep
kecerdasan.
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan
tahap perkembangan kognitif peserta didik.
-
Teori
Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.Burner melihat perkembangan
kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan
kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama
bahasa yang biasanya digunakan.
-
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan
oleh Ausebel, Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan
pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru.
·
Kelebihan Teori Kognitivisme
-
Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
-
Membantu siswa memahami bahan belajar secara
lebih mudah.
·
Kekurangan Teori Kognitivisme
-
Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat
pendidikan.
-
Sulit di praktikkan khususnya di tingkat
lanjut.
-
Beberapa prinsip seperti intelegensi sulit
dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.
·
Implementasi Teori Kognitivisme
Aplikasi
teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran yaitu guru harus memahami bahwa
siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia
pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret,
keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan
pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan
pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk
mencapai keberhasilan siswa.
4)
Teori Belajar Humanistik
Arthur
Combs, Abraham H. Maslow, dan Carl R. Rogers adalah
tiga tokoh utama dalam teori belajar
humanistik.
Menurut teori humanistik, proses
belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan
lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi,
dari pada bidang kajian kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat
mementingkan si yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori
belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada
penertian belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang
proses belajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh
teori-teori belajar lainnya.
Dalam
teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha
agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Beberapa prinsip Teori belajar
Humanistik, yaitu
-
Manusia mempunyai belajar alami
-
Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran
dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
-
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam
persepsi mengenai dirinya.
-
Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih
mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil
-
Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman
siswa dalam memperoleh cara.
·
Kelebihan
Teori Humanistik
- Tumbuhnya
kreatifitas peserta didik
- Semakin
cangginhnya teknologi maka akan semakin maju perkembangan belajarnya
- Tugas
guruberkurang
- Mendekatkan
satu dengan yang lainnya
·
Kekurangan
Teori Humanistik
- Pemahaman
yang kurang jelas dapat menghambat pembelajaran.
- Kebebasan
yang diberikan akan cenderung disalahgunakan.
- Pemusatan
pikiran akan berkurang.
- Kecurangan-kecurangan
yang semakin menjadi tradisi.
·
Implementasi
Teori Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau
spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan.
Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para
siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar
dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan
mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang
memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami
potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan
potensi diri yang bersifat negatif.
Dirgantara Wicaksono
Pendidikan Kewarganegaraan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar