Rabu, 20 Mei 2015

Teori Belajar



TEORI BELAJAR
Belajar
Witherington dan Cronbach ( 1982 : 11 ) Belajar adalah suatu perbuatan yang dilakukan sepanjang hidup manusia dan sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap manusia, sehingga belajar merupakan proses memodifikasi atau memperteguh perilaku melalui pengalaman.
Muhibbin Syah ( 1999 : 88 ) Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa, baik ketika di sekolah maupun di lingkungan (rumah atau keluarga).
Teori Belajar
adalah cara-cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.
Kajian psikologi,
teori belajar selalu dihubungkan dengan Stimulus-Respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.
1.      Teori Belajar Behavioristik
Pertama kali teori ini dicetuskan oleh Gagne dan Berliner yaitu; perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori belajar behavior menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar.

Tokoh Behavioristik
a. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Bahwa dengan  menerapkan  strategi, si individu  dapat  dikendalikan  melalui  cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara  individu  tidak  menyadari  bahwa  ia  dikendalikan oleh  stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yg menimbulkan reaksi.
Contoh : Anjing

b. Thorndike  (1874-1949)
peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa disebut stimulus dan respon. menggambarkan proses belajar sebaga proses pemecahan masalah.
Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan dalam sangkar tertutup, apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis saat knop di dalam sangkar disentuh.

c.   Skinner (1904-1990)
menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar.
Pada teori ini guru memberi penghargaan (hadiah) atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin.

2.      Teori Belajar Kognitif
Untuk meningkatkan  kemampuan berfikir siswa, dan membantu siswa menjadi pembelajar sukses, maka pengajar yg menganut paham Kognitivisme banyak melibatkan siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving, strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.

3.      Teori Belajar Konstruktivisme
Pengetahuan yang kita miliki merupakan konstruksi (bentukan) kita sendiri. Seseorang yang belajar akan membentuk pengertian, ia tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang ia baca, melainkan menciptakan pengertian baik secara personal maupun sosial. Pengetahuan tersebut dibentuk melalui interaksi terhadap lingkungannya.

Prinsip Konstruktivisme
         Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
         Pengetahuan tidak dapat dipindahkan oleh guru
         Murid menuju ke konsep yang lebih rinci
         Guru sekedar memfasilitasi

4.      Teori Belajar Humanistik
Siswa memahami potensi dirinya, dan mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif dan tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar.

Tokoh Teori Belajar Humanistik
a.       Arthur Combs (1912-1999)
Bersama Donald Snygg (1904-1967)
Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.

b.      Abraham Maslow
manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

c.       Carl Rogers
Perlunya sikap saling  menghargai  dan tanpa prasangka  (antara klien dan terapis)  dalam  membantu individu  mengatasi  masalah-masalah  kehidupannya.  Rogers  menyakini  bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas  permasalahan  yang  dihadapinya  dan tugas terapis hanya  membimbing klien  menemukan  jawaban  yang benar.  Menurut Rogers, teknik-teknik   assessment   dan  pendapat   para   terapist  bukanlah  hal  yang   penting  dalam melakukan treatment kepada klien.

Dirgantara Wicaksono
Pendidikan Kewarganegaraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar