TEORI BELAJAR
Belajar
Witherington dan Cronbach ( 1982 : 11 ) Belajar adalah suatu perbuatan yang dilakukan
sepanjang hidup manusia dan sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap manusia,
sehingga belajar merupakan proses memodifikasi
atau memperteguh perilaku melalui pengalaman.
Muhibbin Syah ( 1999 : 88 )
Belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan
unsur fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa, baik ketika
di sekolah maupun di lingkungan (rumah
atau keluarga).
Teori
Belajar
adalah
cara-cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungan.
Kajian psikologi,
teori belajar selalu dihubungkan dengan Stimulus-Respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan
respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam
lingkungannya.
1. Teori
Belajar Behavioristik
Pertama
kali teori ini dicetuskan oleh Gagne
dan
Berliner yaitu; perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman.
Teori
belajar behavior menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan
penguatan terjadi dalam suatu proses belajar.
Tokoh
Behavioristik
a. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Bahwa dengan menerapkan strategi, si individu dapat
dikendalikan melalui cara stimulus alami
dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginkan, sementara individu tidak
menyadari bahwa ia
dikendalikan oleh stimulus yang
berasal dari luar dirinya.
Belajar
menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya
syarat-syarat yg menimbulkan reaksi.
Contoh
: Anjing
b. Thorndike (1874-1949)
peristiwa
terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa disebut stimulus dan respon.
menggambarkan proses belajar sebaga proses
pemecahan masalah.
Eksperimen
yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan dalam sangkar tertutup, apabila pintunya dapat dibuka secara
otomatis saat
knop di dalam sangkar disentuh.
c. Skinner (1904-1990)
menganggap
reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar.
Pada
teori ini guru memberi penghargaan (hadiah) atau nilai tinggi sehingga anak akan
lebih rajin.
2. Teori
Belajar Kognitif
Untuk meningkatkan
kemampuan berfikir siswa, dan membantu siswa menjadi pembelajar sukses,
maka pengajar yg menganut paham Kognitivisme banyak melibatkan siswa dalam
kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving, strategi belajar,
memory retention skill sering ditekankan.
3. Teori
Belajar Konstruktivisme
Pengetahuan yang kita miliki merupakan konstruksi
(bentukan) kita sendiri. Seseorang yang belajar akan membentuk pengertian, ia
tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang ia baca,
melainkan menciptakan pengertian baik secara personal maupun sosial.
Pengetahuan tersebut dibentuk melalui interaksi terhadap lingkungannya.
Prinsip
Konstruktivisme
•
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
•
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan oleh
guru
•
Murid menuju ke konsep yang lebih rinci
•
Guru sekedar memfasilitasi
4. Teori
Belajar Humanistik
Siswa memahami potensi dirinya, dan
mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang
bersifat negatif dan tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya
daripada hasil belajar.
Tokoh
Teori Belajar Humanistik
a. Arthur
Combs (1912-1999)
Bersama
Donald Snygg (1904-1967)
Guru harus memahami perilaku siswa dengan
mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah
perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang
ada.
b. Abraham
Maslow
manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan
tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah
(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).
c. Carl
Rogers
Perlunya sikap saling menghargai
dan tanpa prasangka (antara klien
dan terapis) dalam membantu individu mengatasi
masalah-masalah
kehidupannya. Rogers menyakini
bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan
yang dihadapinya dan tugas terapis hanya membimbing klien menemukan
jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment
dan pendapat para
terapist bukanlah hal
yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.
Dirgantara Wicaksono
Pendidikan Kewarganegaraan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar